Masih berupa oléh² dari perjalanan ke Plant 3 AHM sabtu minggu yang lalu. Selain agenda product knowledge, dari CorCom (Coorporate Communication) CMIIW, juga memberikan materi tentang history injeksi itu sendiri. Saya bersama seluruh blogger yang hadir jadi tau, kapan sih sebenarnya injeksi diterapkan di motor, tentunya selain di mobil ya brosis
Terlihat justru kita semakin banyak tau dengan informasi yang sangat berguna semacam ini. Tertarik tau masSis and mbakBro? Cekidot aja lanjutannya dibawah ini 
Ternyata teknologi injeksi bukanlah hal baru. Bisa dibilang cukup lama sudah mulai di integrasikan di motor atau kendaraan roda 2. Tepatnya tahun 1981 Honda mempelopori penggunaan parts injeksi yang dicangkokkan pada motor CX500 Turbo. Motor ini hanya untuk Jepang, Eropa dan Amerika saja CMIIW. Inilah motor atau moge pertama yang menggunakan injeksi. Bisa dibayangkan nggak masbro, kalau sekarang tahun 2013, sudah berapa tahun teknologi tahap awal ini digunakan? Yupss…32 tahun masbro. Sama dengan pemerintahan Orde Baru di Indonesia
Dengan makin pentingnya teknologi “mahal” untuk tahun itu yang akan diterapkan pada tahun² selanjutnya, maka insinyur² Honda merancang dan siap mengaplikasikan parts injeksi ini di motor harian yang tentu lebih kecil secara kubikasi mesinnya. Tonggak itu ditancapkan dan negara yang dipilih adalah Thailand dengan produknya yang disebut Honda Wave 125i. Hanya berselang 2 tahun saja produk sejenis hadir dan menjadi tonggak injeksi pertama di Indonesia dengan brand Supra X 125 Pgm-FI. Ingat masSis n mbakBro, gen pertama adalah Supra X 125 yang single keenya. Bukan yang double keen.
Ditengah persaingan yang ketat, karena kompetitor juga mulai mengaplikasikan injeksi, pada 2011 Honda Indonesia (AHM) mendeklarasikan CINTA Honda Pgm-FI CINTA Indonesia. Menindaklanjuti kampanye itu, secara bertahap AHM mulai menginjeksikan semua produk²nya selain mengimpor beberapa motor CBU yang juga sudah mengadopsi sistim injeksi. Dan hasil yang diraih dari usaha ini menurut AHM tidak-lah sia², karena sampai saat ini penjualan motor yang biasa disebut dengan market share motor Injeksi = Terbanyak di Indonesia. Setidaknya catatan itu melalui data AISI Year To Date (YTD) Pebruari 2013. Woowww…
Ternyata teknologi injeksi bukanlah hal baru. Bisa dibilang cukup lama sudah mulai di integrasikan di motor atau kendaraan roda 2. Tepatnya tahun 1981 Honda mempelopori penggunaan parts injeksi yang dicangkokkan pada motor CX500 Turbo. Motor ini hanya untuk Jepang, Eropa dan Amerika saja CMIIW. Inilah motor atau moge pertama yang menggunakan injeksi. Bisa dibayangkan nggak masbro, kalau sekarang tahun 2013, sudah berapa tahun teknologi tahap awal ini digunakan? Yupss…32 tahun masbro. Sama dengan pemerintahan Orde Baru di Indonesia
Dengan makin pentingnya teknologi “mahal” untuk tahun itu yang akan diterapkan pada tahun² selanjutnya, maka insinyur² Honda merancang dan siap mengaplikasikan parts injeksi ini di motor harian yang tentu lebih kecil secara kubikasi mesinnya. Tonggak itu ditancapkan dan negara yang dipilih adalah Thailand dengan produknya yang disebut Honda Wave 125i. Hanya berselang 2 tahun saja produk sejenis hadir dan menjadi tonggak injeksi pertama di Indonesia dengan brand Supra X 125 Pgm-FI. Ingat masSis n mbakBro, gen pertama adalah Supra X 125 yang single keenya. Bukan yang double keen.
Ditengah persaingan yang ketat, karena kompetitor juga mulai mengaplikasikan injeksi, pada 2011 Honda Indonesia (AHM) mendeklarasikan CINTA Honda Pgm-FI CINTA Indonesia. Menindaklanjuti kampanye itu, secara bertahap AHM mulai menginjeksikan semua produk²nya selain mengimpor beberapa motor CBU yang juga sudah mengadopsi sistim injeksi. Dan hasil yang diraih dari usaha ini menurut AHM tidak-lah sia², karena sampai saat ini penjualan motor yang biasa disebut dengan market share motor Injeksi = Terbanyak di Indonesia. Setidaknya catatan itu melalui data AISI Year To Date (YTD) Pebruari 2013. Woowww…
Intinya, Honda mengklaim bahwa No. 1 masang di tahun 1981 (untuk Jepang-Eropa-USA), No. 1 di Wave 125i motor cc kecil (Thailand) dan No. 1 melalui Supra X 125 FI (Indonesia)
Jualan (Honda) vs Edukasi (Yamaha)
Setelah membaca artikel mas iwb (Honda kuasai 64 % pasar injeksi), saya langsung teringat akan perjuangan 2 pabrikan motor Indonesia itu dalam menjalani jalanan terjal nan curam untuk mempopulerkan produk FI mereka. Ingat ketika Honda menggebrak tanah air dengan produk motor FI pertama yang bernama Honda Supra X Injeksi? Sayang hasil yang diharapkan tidak sesuai keinginan. Kemudian Yamaha latah dengan memperkenalkan Vixion, motor sport masspro pertama Indonesia yang bermesin Injeksi. Dan, ternyata hasilnya berkebalikan. Vixion menjadi raja motor sports Indonesia hingga kini. Honda bisa dibilang sedikit dalam hal edukasi konsumen mengenai FI. Yamaha juga tidak terlalu gencar memproklamirkan Injeksi pada Vixion.Fenomena apa ini?
Saat regulasi pemerintah yang mengharuskan produk kendaraan bermotor lolos standar emisi Euro 2, kedua pabrikan itupun merubah line up mereka dengan mesin berpengkabut. Yamaha lebih dulu mengeluarkan Mio-J untuk menggantikan Mio Smile, dan Honda menambah line up mereka dengan Spacy FI. Seiring waktu beberapa line up pun berhasil diperkenalkan ke khalayak. Sebut saja Soul GT, Jupiter Z1, Vario FI, Beat FI, Mio GT, dan lainnya meramaikan pasar Injeksi tanah air. Yamaha semakin gencar bahkan dibilang ngotot dalam hal edukasi konsumen tentang FI. Honda sendiri bisa dibilang minim edukasi, namun malah giat dan ngotot dalam hal penjualan.
Hasilnya? Honda menguasai pasar Injeksi Indonesia dengan torehan 64%. Minim koar-koar namun maksi hasil. Yamaha yang masih sibuk berkampanye injeksi justru seakan melupakan penjualan mereka. Entah ini hasil sementara atau hasil seterusnya. Mungkin yang paling tepat adalah kampanye jalan, jualan tetep diprioritaskan. Yah, namun itu memang sudah menjadi differensiasi kedua kompetitor itu. Nah, menurut Anda bagaimana? Penting jualan atau penting edukasi? Semoga berguna…
Rahasia Akali Seting Bahan Bakar Motor Injeksi Pakai Resistor
Ngomongsoal motor teknologi injeksi, pastinyabicara rangkaian elektronik yang bisa dibilang pintar. Tapi, sepintar-pintarnya elektronik, masih bisa dibohongi.
Dengan modal uang Rp 500 perak, sudah bisa bohongi ECU (Elektronik Control Unit) yang katanya otak sistem injeksi. Tapi, bukan mencangkokan uang lima ratus perak itu ke komponen ECU. Melainkan, uangnya ditukarkan dengan sebatang resistor yang seharga itu.
Resistor ini bisa digunakan untuk memanipulasi data yang dibaca 02 sensor alias sensor oksigen. Intinya, data yang dihantarkan O2 sensor ke ECU, sebelumnya ditahan resistor. Data ini berisi perintah ke ECU berupa voltase, yang nanti dikonversikan menjadi semprotan bahan bakar oleh injektor. Bisa dibilang sensor untuk menentukan basah atau kering, perbandingan bensin dan udara.
Data ini bisa dimanipulasi dengan cara pemilihan gelang yang terdapat di resistor. O2 sensor tanpa heater (small engine) rentang yang bisa dimainkan 0 – 0,5 ohm (kering) dan 0,5 – 1 ohm (basah). Sedangkan 0,2 sensor dengan heater (moge) 1 – 2,5 ohm (kering) dan 2,5 – 5 ohm (basah).
Alat uji, tim MOTOR Plus menggunakan Honda Vario 125 Fi yang akan dibikin perbandingan bahan bakarnya kering. Warna gelang di resistor pakai kuning (4), ungu (7), silver (0,01) dan emas (5%). Bila pakai rumus, resistor ini bernilai 0,47 Ohm. Rumus : 47 x 0,01 = 0,47 Ohm. Sebelum dipasang, harus pakai cangkokan untuk bisa menengahi O2 sensor dan ECU.
Untuk pembacaan real pengaruh penggunaan resistor ini, digunakan HIDS (Honda Injection Diagnostic Tools). Temperatur engine harus pasdi 90 derajat celcius agar semprotan bahan bakar stabil. Dalam keaadan standar, O2 sensormembaca rentang angka 0,2 – 0,9 volt. Dalam keadaan idle di 1.400 rpm dan Throttle PositionSensor 0,468 volt.
Dengan perlakuan yang sama, lalu resistor dicangkokan antara O2 sensor dan ECU. O2 sensor yang terbaca di HIDS, mengalami perubangan rentang jadi lebih kecil. Artinya semprotan bahan bakar kering. Rentang di 0,09– 0,8 volt. Kalau ingin bahan bakar jadi basah, tinggal pilih warna gelang. Contoh, coklat, hitam, emas, perak yang punya nilai 1 ohm.
Pilihan lain selain piggy back nih!
Pengaruh Terhadap Performa
Segala cara ditempuh, tentunya dengan harapan untuk mendongkrak performa agar lebih maksimal. Oleh sebab itu, data yang dibaca oleh HIDS, masih kurang puas bila belum ada peningkatan performa. Nah, biar rasa penasaran bisa terjawab jelas, tim MOTOR Plus juga melakukan pengujian di atas mesin dyno kepunyaan Ultraspeed Racing.
Perbandingan awal, Vario 125 diajak ‘berlari’. Power, 9,70 hp/ 8.900 rpm dan torsi 9,60 Nm/ 6.400 rpm. Lalu dicangkokan kembali resistor 0,47 Ohm. Faktanya, bisa mendongkrak naik power dan torsi. Hasilnya, power jadi 9,98 dk/ 8.900 rpm dan 9,79 Nm/ 6.100 rpm. Naik sekitar 0,28 dk dan 0,19 Nm.
“Hanya dengan Rp 500, tentunya kenaikan segitu sudah sangat cukup,” bilang Niko Suardi, Chief Mekanik dari Ultraspeed Racing yang ngendon di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No. 42, Ciledug, Tangerang.
Bukan hanya itu, grafik yang terbaca oleh mesin dyno lebih stabil dengan menggunakan resistor dibanding tanpa resistor. Itu terbukti saat Vario dengan resistor dirunning 2 kali, hasil grafiknya power dan torsi lebih seimbang.Sedangkan tanpa resistor, hasil grafik power dan torsi berubah-ubah.
Jalan ini, memang bisa jadi alternatif sebagai pengganti piggy back. Tapi, tentu hasilnya juga tidak akan lebih bagus dari piggy back. Karena, bila pilih setingan kering, dari rpm bawah-atas akan terus kering. Begitu juga sebaliknya.
Sedangkan, bila pakai piggy back, bisa diatur mulai rpm bawah-tengah-atas. Itu balik lagi keisi kantong, bila punya duit lebih bisa tebus piggy back. Tapi, kalau kantong cekak namun ingin ganti knalpot dan setingan ingin dibikin basah atau kering, monggo tempuh aplikasi resistor yang murah-meriah ini. (motorplus)
Power(dk)
Rpm Standar Resistor
5.500 6,75 6,06
6.000 8,35 8,34
6.500 7,02 8,02
7.000 8,15 8,37
7.500 8,95 9,13
8.000 9,45 9,63
8.500 9,55 9,82
9.000 9,70 9,93
9.500 9,53 9,91
Torsi (Nm)
Rpm Standar Resistor
5.500 8,57 7,49
6.000 9,79 9,60
6.500 7,68 8,70
7.000 8,27 8,51
7.500 8,44 8,65
8.000 8,39 8,57
8.500 8,00 8,21
9.000 7,66 7,78
Ngomongsoal motor teknologi injeksi, pastinyabicara rangkaian elektronik yang bisa dibilang pintar. Tapi, sepintar-pintarnya elektronik, masih bisa dibohongi.
Dengan modal uang Rp 500 perak, sudah bisa bohongi ECU (Elektronik Control Unit) yang katanya otak sistem injeksi. Tapi, bukan mencangkokan uang lima ratus perak itu ke komponen ECU. Melainkan, uangnya ditukarkan dengan sebatang resistor yang seharga itu.
Resistor ini bisa digunakan untuk memanipulasi data yang dibaca 02 sensor alias sensor oksigen. Intinya, data yang dihantarkan O2 sensor ke ECU, sebelumnya ditahan resistor. Data ini berisi perintah ke ECU berupa voltase, yang nanti dikonversikan menjadi semprotan bahan bakar oleh injektor. Bisa dibilang sensor untuk menentukan basah atau kering, perbandingan bensin dan udara.
Data ini bisa dimanipulasi dengan cara pemilihan gelang yang terdapat di resistor. O2 sensor tanpa heater (small engine) rentang yang bisa dimainkan 0 – 0,5 ohm (kering) dan 0,5 – 1 ohm (basah). Sedangkan 0,2 sensor dengan heater (moge) 1 – 2,5 ohm (kering) dan 2,5 – 5 ohm (basah).
Alat uji, tim MOTOR Plus menggunakan Honda Vario 125 Fi yang akan dibikin perbandingan bahan bakarnya kering. Warna gelang di resistor pakai kuning (4), ungu (7), silver (0,01) dan emas (5%). Bila pakai rumus, resistor ini bernilai 0,47 Ohm. Rumus : 47 x 0,01 = 0,47 Ohm. Sebelum dipasang, harus pakai cangkokan untuk bisa menengahi O2 sensor dan ECU.
Untuk pembacaan real pengaruh penggunaan resistor ini, digunakan HIDS (Honda Injection Diagnostic Tools). Temperatur engine harus pasdi 90 derajat celcius agar semprotan bahan bakar stabil. Dalam keaadan standar, O2 sensormembaca rentang angka 0,2 – 0,9 volt. Dalam keadaan idle di 1.400 rpm dan Throttle PositionSensor 0,468 volt.
Dengan perlakuan yang sama, lalu resistor dicangkokan antara O2 sensor dan ECU. O2 sensor yang terbaca di HIDS, mengalami perubangan rentang jadi lebih kecil. Artinya semprotan bahan bakar kering. Rentang di 0,09– 0,8 volt. Kalau ingin bahan bakar jadi basah, tinggal pilih warna gelang. Contoh, coklat, hitam, emas, perak yang punya nilai 1 ohm.
Pilihan lain selain piggy back nih!
Pengaruh Terhadap Performa
Segala cara ditempuh, tentunya dengan harapan untuk mendongkrak performa agar lebih maksimal. Oleh sebab itu, data yang dibaca oleh HIDS, masih kurang puas bila belum ada peningkatan performa. Nah, biar rasa penasaran bisa terjawab jelas, tim MOTOR Plus juga melakukan pengujian di atas mesin dyno kepunyaan Ultraspeed Racing.
Perbandingan awal, Vario 125 diajak ‘berlari’. Power, 9,70 hp/ 8.900 rpm dan torsi 9,60 Nm/ 6.400 rpm. Lalu dicangkokan kembali resistor 0,47 Ohm. Faktanya, bisa mendongkrak naik power dan torsi. Hasilnya, power jadi 9,98 dk/ 8.900 rpm dan 9,79 Nm/ 6.100 rpm. Naik sekitar 0,28 dk dan 0,19 Nm.
“Hanya dengan Rp 500, tentunya kenaikan segitu sudah sangat cukup,” bilang Niko Suardi, Chief Mekanik dari Ultraspeed Racing yang ngendon di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No. 42, Ciledug, Tangerang.
Bukan hanya itu, grafik yang terbaca oleh mesin dyno lebih stabil dengan menggunakan resistor dibanding tanpa resistor. Itu terbukti saat Vario dengan resistor dirunning 2 kali, hasil grafiknya power dan torsi lebih seimbang.Sedangkan tanpa resistor, hasil grafik power dan torsi berubah-ubah.
Jalan ini, memang bisa jadi alternatif sebagai pengganti piggy back. Tapi, tentu hasilnya juga tidak akan lebih bagus dari piggy back. Karena, bila pilih setingan kering, dari rpm bawah-atas akan terus kering. Begitu juga sebaliknya.
Sedangkan, bila pakai piggy back, bisa diatur mulai rpm bawah-tengah-atas. Itu balik lagi keisi kantong, bila punya duit lebih bisa tebus piggy back. Tapi, kalau kantong cekak namun ingin ganti knalpot dan setingan ingin dibikin basah atau kering, monggo tempuh aplikasi resistor yang murah-meriah ini. (motorplus)
Power(dk)
Rpm Standar Resistor
5.500 6,75 6,06
6.000 8,35 8,34
6.500 7,02 8,02
7.000 8,15 8,37
7.500 8,95 9,13
8.000 9,45 9,63
8.500 9,55 9,82
9.000 9,70 9,93
9.500 9,53 9,91
Torsi (Nm)
Rpm Standar Resistor
5.500 8,57 7,49
6.000 9,79 9,60
6.500 7,68 8,70
7.000 8,27 8,51
7.500 8,44 8,65
8.000 8,39 8,57
8.500 8,00 8,21
9.000 7,66 7,78
Tidak ada komentar:
Posting Komentar